(C) 2006―2010 ― Achmad Firwany
CAHAYA NYATA DAN CAHAYA MAYA
Seberkas cahaya putih bilamana dibiaskan melalui sebuah prisma bening akan terurai atas 7 komponen spektral warna bianglala atau pelangi (rainbow): merah, jingga, kuning, hijau, nila, biru, dan lembayung.
Merah, hijau, biru adalah warna dasar cahaya. Jika merah kita campur dengan biru, maka akan muncul warna lembayung. Jika biru kita campur dengan hijau, maka akan muncul nila (indigo). Percampuran dua atau lebih warna akan menghasilkan ribuan warna baru, yang merupakan warna-antara (hue) .
Jika hitam dicampur dengan putih, maka muncul kelabu, yang gelap-terangnya tergantung dari persentasi hitam dan putih. Jika masing-masing warna kita campur dengan hitam dan atau putih, maka kita dapatkan lagi jutaan aneka warna yang berbeda dalam kecerahan (brightness) gelap-terang dan kemurnian (purity) warna aslinya.
TUJUH WARNA SPEKTRAL CAHAYA | SEVEN SPECTRAL COLORS OF LIGHT
PENGURAIAN CAHAYA PUTIH OLEH PRISMA BENING KE CAHAYA WARNA
| PENGURAIAN CAHAYA PUTIH OLEH | NO. | NAMA WARNA | ||
| PRISMA BENING KE CAHAYA WARNA | INDONESIA | INGGRIS | ARAB | |
![]() | 7. | lembayung | violet | banafajiy |
| 6. | nila | indigo | niyl | |
| 5. | biru | blue | `azraq | |
| 4. | hijau | green | `akhhar | |
| 3. | kuning | yellow | `ashfar | |
| 2. | jingga | orange | `asyqar | |
| 1. | merah | red | `ahmar | |

Tujuh warna spektral cahaya putih efek dispersi prisma bening.
Dalam udara, jika air mengalami penguapan, maka akan terbentuk uap air, asap, kabut, awan atau mega, dan sebaliknya jika awan mengalami pengembunan, maka akan terjadi butir-butir air, atau tetes-tetes air, yang jika ditembus oleh seberkas sinar cahaya, maka berkas sinar cahaya transparan tersebut akan dibiaskan oleh kebeningan air, dan cahaya yang dibiaskan akan diproyeksikan ke langit dan akan membentuk suatu busur-hujan (rainbow), pelangi atau bianglala yang terdiri dari tujuh komponen warna spektral.
Jika tujuh cahaya warna ini dipersatukan kembali, maka akan diperoleh cahaya putih seperti semula. Artinya, cahaya putih terdiri dari segala warna.
Tiga warna dasar cahaya adalah RGB (red, green, blue; merah, hijau, biru). Jika merah dipadukan dengan biru, maka dihasilkan V (violet, lembayung). Jika merah dipadukan dengan hijau, maka dihasilkan Y (yellow, kuning). Jika biru dipadukan dengan hijau, maka dihasilkan I (indigo, nila). Jika semua dipadukan bersama maka kembali jadi putih.
Dalam konteks cahaya, putih berarti penuh cahaya (full of light) dan hitam berarti tiada cahaya (no light). Dari sini dihasilkan kebenderangan (brightness) dan kegelapan (darkness). Jadi dari tiga warna dasar dan persentasi pencahayaan, dapat dihasilkan warna tak terhingga banyaknya.

Ban spektrum sinambung cahaya tampak.

Tabel panjang gelombang dan frekuensi warna spektral cahaya tampak.
Hasil kali panjang gelombang dan frekuensi, samadengan kecepatan cahaya.
Diluar rangkum tujuh warna cahaya diatas, tak ada lagi yang bisa dilihat dengan mata biasa, dimana merah-infra (infra-red) atau cahaya-infra (infra-photic) dan lembayung-ultra (ultra-violet) atau cahaya-ultra (ultra-photic), menjadi batas terendah dan batas tertinggi penglihatan manusia (human limits of visibility).
Semua radiasi diatas dan dibawah limit penglihatan manusia ini tak dapat kita lihat dengan mata biasa, namun dapat kita deteksi keberadaannya, dan diukur kualitas dan kuantitas radiasinya.
Cahaya lembayung-ultra terdiri dari lembayung-ultra dekat (near ultra-violet) dengan rangkum panjang-gelombang antara 4,0 x 10 exp —7 s/d 10 exp —8 meter, dan lembayung-ultra jauh (far ultra-violet) dengan rangkum panjang-gelombang antara 10 exp —8 s/d 10 exp —9 meter.
Diatas frekuensi cahaya lembayung-ultra adalah radiasi x atau sinar Roentgen, dengan rangkum panjang-gelombang antara 10 exp —9 s/d 10 exp —11 meter; terbagi atas radiasi x lunak, 10 exp —9 s/d 10 exp —10, dan radiasi x keras, 10 exp —10 s/d 10 exp —11; dimana radiasi x ini juga memiliki spektrum, tapi tak dapat dilihat mata.
Diatasnya lagi adalah radiasi Gamma, merupakan radiasi peluruhan radioaktiv (radioactive decay) karena disintegrasi atomik atau fissi nuklir (atomic disintegration, nuclear fision), dengan panjang-gelombang antara 10 exp —11 s/d 10 exp —13 meter.
Diatasnya lagi adalah radiasi kosmik berasal dari antariksa, terutama dari bintang kita, Matahari, mengadung elektron, proton, neutron, nucleon, deutron, neutrino, dan partikel atomik dan partikel nuklir lainnya, dengan panjang-gelombang lebih pendek daripada 10 exp —13 meter.
Cahaya merah-infra, terdiri dari merah-infra dekat (near infra-red) dengan rangkum panjang-gelombang antara 7,4 x 10 exp—7 s/d 10 exp—5 meter, dan merah-infra jauh (far infra-red) dengan rangkum panjang-gelombang antara exp—5 s/d 10 exp—4 meter.
Dibawah frekuensi cahaya merah-infra adalah radiasi gelombang-renik atau gelombang-mikro (microwave), dengan rangkum panjang gelombang antara 10 exp—4 m s/d 10 exp—1 m, dan rangkum frekuensi antara 1 GHz s/d 1 THz, , dengan aplikasi praktis antara 10 GHz s/d 100 GHz.
Dibawahnya lagi adalah rangkum frekuensi gelombang radio (radio wave), yang terdiri dari VSW (very short wave) 1 s/d 10 m, SW (short wave) 10 s/d 100 m, MW (medium wave) 100 s/d 1.000 m [1 km], LW (long wave) 1.000 sd/ 10.000 m [1 s/d 10 km], VLW (very long wave) 10.000 s/d 100.000 m [10 s/d 100 km], dan rangkum frekuensi antara 1 kHz dan 1 GHz, dengan aplikasi praktis antara 10 kHz s/d 100 MHz.
DUALITAS DAN KECEPATAN CAHAYA | DUALITY AND SPEED OF LIGHT
Berdasarkan pada fisika dan kosmologi, cahaya, dalam arti cahaya fisik (physical light), adalah status kelima materi (fifth state of matter) [pertama, padatan (contoh: tanah); kedua, cairan (contoh: air); ketiga, gas (contoh: udara); dan keempat, plasma (api)], dimana status keenam dan ketujuh diatasnya hanyalah ketunggalan atau singularitas fisik (physical singularity) dan keberadaan atau eksistensi fisik (physical existence).
Cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang cahaya, sinar, dan penglihatan (light, ray, and seeing) disebut: fotika, optika, dan skopika (photics, optics, and scopics). Cahaya adalah suatu gelombang elektromagnetik transversal yang merambat secara melintang, yakni gelombang radiasi atomik karena terkena pembakaran (burning), pemancaran atau radiasi (radiation), baik pelepasan (emission) maupun pemantulan (reflection). Cahaya tak memerlukan media rambat. Cahaya merambat dalam ruang hampa, namun dipengaruhi oleh gravitasi, berat benda karena bobot material.
Cahaya fisik memiliki dua wujud, sebagai gelombang energi dan partikel materi tanpa bobot atau masa (mass), yang dinamakan foton (photon) atau partikel "gamma", bergerak dalam ruang-waktu hampa semesta fisik dengan kecepatan mendekati 300 juta meter per detik, tepatnya, lebih-kurang 299.792.500 m/dtk.
Kecepatan cahaya sedikit menurun ketika melalui benda rapat karena ada hambatan, pembiasan atau pembelokan. Namun penurunannya sangat kecil dan hampir dapat diabaikan dibandingkan dengan kecepatannya dalam ruang hampa.
Kecepatan cahaya ini pertama kali diukur secara eksperimental di Ceveland pada 1880an oleh dua fisikawan, Michelson [Albert Abraham Michelson (1852—1931), fisikawan Jerman—Amerika, penemu interferometer] dan Morley [Edward Morley]; dan sekaligus membuktikan bahwa tak ada fluida hipotetik yang dinamakan "aether" di angkasa.
Karena cahaya bergerak dengan kecepatan tinggi, ia dapat digunakan sebagai pengukur jarak, dimana 1 detik cahaya = 299.792.500 meter = 299.792,5 km = 299,792.5 Mm, adalah jarak ditempuh cahaya dalam satu detik. Satu menit cahaya = 17.987.550 km = 17.987,550 Mm = 17,987.550 Gm. Satu jam cahaya = 1.079.253 Mm = 1.079,253 Gm = 1,079.253 Tm. Satu hari cahaya = 25.902.072 Mm = 25.902,072 Gm = 25,902.072 Tm. Setahum cahaya = 9.460.731.798 Mm = 9.460.731,798 Gm = 9.460,731.798 Tm = 9,460.731.798 kTm = 9,460.731.798 exp 15 m. [1 T (Tera) = 1.000 G (Giga) = 1.000.000 M (Mega) = 1.000.000.000 k (kilo)].

Jarak cahaya antara Matahari, Bumi, dan Bulan
Lama waktu dibutuhkan oleh cahaya Bulan untuk sampai ke Bumi, rata-rata adalah 1,282 detik cahaya. Berarti jarak rata-rata Bulan dari Bumi adalah 384.201 km. Sedangkan lama waktu dibutuhkan oleh sinar Matahari untuk sampai ke Bumi, rata-rata adalah 8,317 menit cahaya. Berarti jarak rata-rata Matahari dari Bumi adalah 149.599.000 km atau 149,599 Gm, jarak mana dijadikan satuan ukuran yang dinamakan satu unit astronomik (astronomical unit).

Tatanan planet mayor dalam tata surya kita
Satu produk aplikasi cahaya dalam sains dan teknologi yang dapat digunakan untuk menentukan jarak dan atau mendeteksi keberadaan suatu benda tersembunyi adalah RADAR (Radio Detecting And Ranging), yang bekerja menggunakan prinsip gema (echo); dimana antara lain dapat digunakan untuk mengukur jarak dan arah gerak benda di angkasa. Produk lain lagi adalah MASER (Microwave Amplification by Stimulating Emission of Radiation) dan LASER (Light Amplification by Stimulating Emission of Radiation), yang bekerja menggunakan prinsip cahaya koheren dan sefase, sedemikian sehingga cahaya terkumpul jadi satu berkas sinar sangat energetik, yang bahkan mampu mengiris logam atau membakar dengan panas luarbiasa.
Dari seluruh keberadaan cahaya fisik, hanya sebagian kecil rangkum cahaya ini yang tampak (visible) dengan mata biasa, yakni cahaya berwarna, yang terletak dalam rangkum penampakan (range of visibility), yang membentuk spektrum warna, antara merah-infra (infra-red) dan lembayung-ultra (ultra-violet), atau antara panjang-gelombang (wave-length) 7,4 dan 4,0 x 10 exp —7 meter dan frekuensi 4,051 dan 7,495 x 10 exp 14 Hertz. Diluar rangkum ini, cahaya adalah bening (transparent) tak bisa dilihat dengan mata biasa, tapi efeknya, sampai batas tertentu, bisa dirasakan atau dideteksi, bergantung pada kepekaan detektor, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai "ghayb".
Dalam fisika, energi dan materi adalah satu hal sama dalam wujud berbeda. Secara fisik, dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya, energi bisa menjelma jadi materi, via proses "materialisasi energi" (materialization of energy), dan sebaliknya, materi bisa menjelma jadi energi, via proses "annihilasi materi" (annihilation of matter). Karena cahaya memiliki dualitas energi—materi (energy—matter duality), ini menjelaskan bagaimana malä`ikat sebagai makhlüq cahaya (photonic creature), yang bergerak dengan kecepatan 0,999.999.999 . 999.999.999 ... kali kecepatan cahaya, bisa menjelma jadi berbagai wujud, termasuk wujud manusia, tapi kemudian sirna sekejap mata.
. . .
__________________________________________________
(C) 2006―2010 ― Achmad Firwany
HAKI (Hak Atas Kepemilikan Intelektual) karya tulis intelektual ini dilindungi oleh Undang-Undang Negara Republik Indonesia, dan juga oleh konvensi dan provisi internasional atas karya intelektual di tiap negara di seluruh dunia.
Tak sebagian pun dr tulisan, dokumen atau pagina jala ini boleh disalin, digandakan dan atau diperbanyak: diduplikasi, direplika, direproduksi, ditransmisi, ditranskripsi, ditranslasi kedlm bentuk bahasa apapun atau disimpan dlm satu sistem retrieval apapun; dlm bentuk apapun atau dlm cara apapun, mencakup tp tak terbatas pd cara optik, elektromagnetik, elektronik, elektromekanik, atau lainnya; utk maksud dan tujuan komersial; tanpa pemberitahuan dan perkenanan tertulis terlebih dulu dr pemilik hak atas karya intelektual ini.
Untuk non-komersial, penggunaan sebagai rujukan atau referensi, secara keseluruhan atau sebagian, harap cantumkan sumber informasi ini sebagai acuan.















Waktu Jakarta































» FORUM: Administrator: Salam Kenal
» INTRO: TESQSCAPE
» Kelompok Keahlian Fisika Sains
» INFOTEK: Pesawat Mampu Terbang Non-Stop
» NUKLIR: Penemuan Partikel Lebih Cepat daripada Cahaya
» DINAMIK: Memahami Kedudukan Fisika Kuantum
» DINAMIK: Konversi dan Konservasi Energi
» PLANETOS: Dijual, Tanah di Planet Serupa Bumi
» PARTIKEL: Target Sains 2011: Temukan 'Partikel Tuhan'
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» ASTROS: R136a1 - Bintang Terbesar SejagatRaya
» PLANETOS: Atmosfir Pluto Terbalik Dibanding Bumi
» PLANETOS: Peneliti Temukan Planet Bertabur Berlian
» MEDIK: Spektrum Frekuensi Gelombang Otak Manusia
» HELIOS: Letusan Bintik Matahari Ancam Bumi
» IPTEK: Amerika Bangun MegaProyek Matahari Buatan
» KOSMOS: Bayi Lubang Hitam Ini Bisa Melahap Bumi
» KOSMOS: Bibit Kehidupan Bumi dari Luar Angkasa?
» KOSMOS: Alam Semesta Berkembang dari Cairan
» KOSMOS: Astronom Amatir Abadikan Hantaman Benda Asing Terhadap Jupiter
» KOSMOS: Stephen Hawking: tak Mau Punah, Manusia Harus Mencari Planet Lain
» WEBINFO: E-mail Fisika
» KOSMOS: Peneliti Yakin Bumi Kiamat Tiap 27 Juta Tahun
» NUKLIR: PII Rekomendasikan Penerapan Energi Nuklir
» KOSMO: Kandungan Air di Bulan Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan
» INFO: Lukman Hakim Dilantik Jadi Kepala LIPI
» KOSMO: Patung Berusia 200.000 Tahun Ditemukan Di Bulan
» MATERIAL: Kristal Cair
» PARTIKEL: Mencari Partikel Antimateri Hingga Antariksa
» METEOR: Ledakan Meteorit Langka dan Acak
» NUKLIR: BATAN: Chernobyl Bukan Alasan Tolak PLTN
» NUKLIR: BATAN: Indonesia Baru Memiliki PLTN 2018-2020
» INFOTEK: Terapkan 42 Mbps, Indonesia Terdepan di Asia
» INFOTEK: Indonesia Konsisten Perhatikan Keselamatan Nuklir
» INFOTEK: Eropa Bangun Teleskop Terbesar Dunia di Chile
» KOSMOS: Anda Bukan Apa-Apa ...
» ASTRO: Foto Pertama "Mikroskop" Matahari
» OPTO: LASER: Light Amplification by Stimulation of Emission of Radiation
» ASTRO: LAPAN: Badai Matahari 2012 Bukan Kiamat
» LENSA: Dibalik Kemerdekaan RI - 17 Agustus 1945
» KOSMOS: Penetapan Kecepatan Cahaya
» ASTRO: Kerumitan Perhitungan Saat: Hari - Bulan - Tahun
» KOSMOS: Kita Senantiasa Berpindah dalam Ruang dan Waktu
» KOSMOS: Kelajuan Ekstrim: Lebih Laju daripada Cahaya
» INTERMEZO: Proyek Antariksa Indonesia ...
» ASTRO: Sistem Kalender Bumi: 20102 Qiamat? Kalkulasi Manusia Tak Pernah Bisa Presisi!
» ASTRO: Penjelasan IpTek Tentang Isue HuruHara 2012
» ASTRO: Sebelas Planet dalam Tata Surya Kita?
» KEMO: Dinding Antara Dua Laut di Giblatar dan Sungai BawahLaut di Meksiko
» INFOTEK: Senjata BelaDiri Kejutan-Listrik Tegangan-Tinggi Berbentuk PonSel
» INFOTEK: Senjata Api Pembunuh Berbentuk PonSel
» INFOTEK: Lensa Tembus-Pandang
» OPTO: Sains dan Teknologi Lensa Tembus Pandang
» BIO: Spektrum Frekuensi Gelombang Otak Manusia
» PSI: Menguak Kemampuan PSI | ESP
» ESAI: Orang Bodoh VS Orang Pintar
» NICE VIDEO: Black Hole: Jangan Tamak ... Jangan Serakah
» NICE VIDEO: Reach: Jadilah DiriMu Sendiri
» NICE VIDEO: Voodoo: Kejahatan Anda Akan Balik Kepada Anda
» PHOTO: Warna. Properti dan Atribut
» MIKROTEK: Kenali Kartu Plastik Pengganti Uang Anda
» LENSA: Nomor Anda Berapa?
» GEO: Biang Gempa-Bumi dan Tsunami
» MATERIAL: Logam Makin Keras dan Lentur
» KOSMOS: Rahasia Kosmik Sang Air: Fenomena Natural dan SupraNatural
» ASTRO: Bintang Neutron, Supernova dan Lubang Hitam
» TEKNO: Bill Gates dan Toshiba akan Bangun Reaktor Nuklir
» ASTRO: Pelacakan Ledakan Bintang Raksasa SuperNova
» KOSMOS: Asteroid Raksasa Penyebab Kepunahan Dinosaurus
» MATERIAL: MetaMaterial Memungkinkan Anda Menghilang dari Pandangan
» GEO: Hipotesis Gaia: Bumi Yang Hidup Dan Bernafas
» KOSMOS: Jarak Antara Bumi dan Bulan Makin Hari Makin Jauh dan Hari Makin Panjang
» TUTORIAL: Memuat Citra KompuGrafik: Foto | Gambar di Forum ini
» TEST: Menampilkan Klip Video
» TEST: Menampilkan Klip Audio
» TEST: Menampilkan Citra Grafiks: Foto Atau Gambar
» TEST: Membuat Tabulasi
» TEST: Membuat Daftar
» TEST: 1 ... 2 ... 3 ...
» FORUM: Pertanyaan Tak Akan Dijawab oleh Administrator
» FORUM: Tata Tertib
» FORUM: Etika
» FORUM: Ketentuan dan Kebijakan Administrator Forum
» FORUM: Selamat Datang
» FORUM: Undangan Untuk Para Pemerhati Fisika
» KOSMOS: Semesta Kita Ternyata Hologram Raksasa
» WTA: Image To Seg-Y