ANEKDOT:
PROYEK ANTARIKSA INDONESIA
Beberapa waktu lalu atas prakarsa PBB, suatu Konferensi Antariksa Internasional di selenggarakan di AS, dituanrumahi oleh NASA (National Aero-Space Administration), lembaga antariksa pemerintah AS. Semua negara anggota PBB diundang untuk mempresentasikan program antariksa negara masing-masing, termasuk pemerintah RI.

AS sebagai tuanrumah mempresentasikan rencana mereka bahwa sebelum akhir dasawarsa ini mereka akan sudah berhasil meluncurkan kapal-antariksa yang dapat menjelajahi secara penuh permukaan es di planet Yupiter, memecah lapisan es, mengambil beberapa sampel dari beberapa gunung es, dan kemudian mengidentifikasi jenis mikro-organisme yang mungkin hidup pada suhu sangat dingin tsb, sehingga lebih dapat dipastikan apakah awal kehidupan jasad renik di Bumi berasal dari Yupiter atau bukan.

Kemudian Perancis membawakan rencana mereka untuk mengeksplorasi lebih jauh beberapa planetoid yang tersebar diantara orbit Mars dan Yupiter, mengambil beberapa sampel, untuk memastikan bahwa mereka memiliki kandungan material sama, dan disana dulu memang ada satu planet besar tapi kemudian hancur berkeping menjadi ribuan planetoid.
Selanjutnya Rusia memaparkan program penelitian lanjut tentang beberapa komet periodik dalam tata surya kita. Lalu China mengemukakan rencana mereka untuk meneliti kandungan awan planet Venus. Setelah itu Jepang pun tak kalah hebatnya, mereka mempresentasikan bahwa mereka akan mengadakan beberapa uji-coba sepeda-motor dan mobil yang bisa digunakan untuk melakukan perjalanan di Bulan.

Pada waktunya tibalah giliran Indonesia. Tapi timbul masalah, karena sebelumnya telah terjadi kesalahan teknis dalam komposisi tim dikirim, sebab ternyata tim yang dikirim bukan dari LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional), lembaga resmi pemerintah RI, melainkan tim gabungan yang terdiri dari beberapa staf administrativ dari lembaga lain, dan tak satu pun dalam tim itu terdapat ilmuwan atau teknikan yang memahami tentang masalah antariksa.
Namun untuk menutupi masalah ini, mereka akhirnya berembuk dan sepakat bahwa Indonesia tetap harus tampil, walau hanya sekedar menyampaikan garisbesar rencana, karena tak mungkin memaparkan program secara detil, dan si pembicara harus sebisa mungkin menghindari pemaparan teknis. Telah disepakati bahwa judul proyek antariksa Indonesia adalah "Eksplorasi Matahari", karena tentang benda langit inilah yang mereka anggap paling banyak mereka ketahui, karena terlihat jelas dan tampak tiap hari di Nusantara.

Dengan penuh percaya diri seorang anggota tim yang dianggap paling mampu tampil mewakili rekan-rekannya maju ke podium diiringi tepuk-tangan meriah dari hadirin. Setelah menyampaikan beberapa kalimat pembukaan sebagai basa-basi, wakil delegasi Indonesia itu pun segera mulai menyampaikan recana antariksa Indonesia:
"Sebagai sebuah negara yang tepat terletak di garis khatulistiwa, Indonesia mempunyai kepentingan besar terhadap Matahari, karena ia adalah sumber PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) kami, dan pada mana sebagian besar industri nasional dan kehidupan rakyat kami bergantung. Dan untuk itu, mulai tahun depan dan beberapa tahun selanjutnya, kami akan melakukan penelitian lebih jauh tentang Matahari dari berbagai aspek dan segala dampaknya bagi kehidupan di Bumi."

Tempik sorak gemuruh memecah suasana yang tadinya hening di ruangan besar auditorium yang dipenuhi anggota tim delegasi dari seluruh dunia itu, sebagai dukungan positiv terhadap proyek Indonesia tsb. Si pemidato pun tersenyum bangga sambil mengangguk-anggukan kepalanya kekiri dan kekanan sebagai tanda penghormatan dan terimakasih atas dukungan forum.
Beberapa saat kemudian seorang anggota delegasi dari salah satu negara peserta berdiri dan mengajukan pertanyaan: "Bagaimana proyek ini akan dilaksanakan? Maksudnya kami secara teknis atau prakteknya agar bisa terlaksana?!"

Menghadapi pertanyaan seperti ini, si pemidato agak sedikit gugup, tapi kemudian untuk meyakinkan para delegator ia terpaksa harus menjawab: "Oh, untuk itu kami akan mengirimkan pesawat antariksa ke Matahari!!!"

Tepuk-tangan meriah pun pecah menyambut jawaban ini. Bahkan sebagian besar delegator berdecak kagum sambil berteriak keras: "Incredible!!!! Luarbiasa, hebat sekali ya Indonesia, tak disangka, ternyata mempunyai progam antariksa begitu dahsyat!!!" Suasana makin hangat, karena seluruh hadirin menyambut rencana Indonesia ini dengan antusias.
Sambutan dan suasana ini makin membuat si Indonesia bangga dan makin manggut-manggut dan separuh membungkukkan badan seperti layaknya orang Jepang kalau lagi memberi hormat [kebetulan si pembicara adalah orang Jawa]. Namun rupanya puncak sambutan ini tak digunakan secara jeli oleh si pembicara untuk mengakhiri presentasi dan sebagai kesempatan mundur dari podium secara terhormat. Ia sepertinya menikmati suasana dimana ia merasa dihargai sebagai seorang pejabat pemerintah. Tapi ia lupa bahwa ia bukan seorang ilmuwan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa rasa bangga dan sombong itu tipis sekali jaraknya, dan ini membuat si pembicara masih tetap bercokol di podium untuk menikmati tempik-sorak berikutnya. Rasa bangganya secara perlahan tapi pasti mulai menyeberang beralih menuju sombong [atau barangkali ia ingin membawa pulang cerita hebat ke tanah-air sebagai oleh-oleh].
Tapi tanpa dinyana, seorang anggota delegator negara lain berdiri dan mengajukan pertanyaan lagi: "Tapi bagaimana teknisnya Indonesia dapat mengirim pesawat ke Matahari? Karena Matahari sangat panas, dengan suhu permukaan sekitar 6.000 derajat Celcius!!! Semua logam akan luluh sebelum mendekat ke Matahari!!! Atau berarti Indonesia memiliki teknologi atau strategi sangat canggih untuk mengatasi problem panas ini???!!!"

Suasana tempik-sorak meriah berubah jadi hening kembali, karena para hadirin kini dilanda pertanyaan sama, dan ingin memperoleh jawaban untuk mengatasi kendala ini. Si pembicara tersentak kaget, dan kali ini ia benar-benar gugup, dan menjadi panik, tapi sebagai konsekuensi ia harus menjawab pertanyaan ini dan memuaskan forum. Karena si pembicara sudah tak dapat lagi mengendalikan dirinya dengan benar, dan untuk menutupi kebohongan proyek fiktif ini, ia pun menjawab kacau: "Oh . . . oh . . . oh . . . Itu masalah kecil buat kami tuan-tuan!!! Karena kami akan berangkat ke Matahari di malam hari dalam musim hujan mendatang . . ."
...
...
...
__________________
Dituturkan kembali oleh Achmad Firwany, pemerhati kosmofisika dan penulis seri artikel dan presentasi TESQ (The Explanation of Scientific Qur`an), sebagaimana telah dituturkan oleh Djuhana Widjayakusumah, penasehat HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), beberapa waktu lalu, dalam satu banyolan ketika bertemu dalam suatu acara di Balai Sidang Jakarta, untuk merancang presentasi ilmiah populer kosmofisika sebagai konfirmasi atas informasi ilmiah Al-Qur`an tentang kosmos dan semesta. [TESQ - FINE ART - 15-11-2006].
PROYEK ANTARIKSA INDONESIA
Beberapa waktu lalu atas prakarsa PBB, suatu Konferensi Antariksa Internasional di selenggarakan di AS, dituanrumahi oleh NASA (National Aero-Space Administration), lembaga antariksa pemerintah AS. Semua negara anggota PBB diundang untuk mempresentasikan program antariksa negara masing-masing, termasuk pemerintah RI.

AS sebagai tuanrumah mempresentasikan rencana mereka bahwa sebelum akhir dasawarsa ini mereka akan sudah berhasil meluncurkan kapal-antariksa yang dapat menjelajahi secara penuh permukaan es di planet Yupiter, memecah lapisan es, mengambil beberapa sampel dari beberapa gunung es, dan kemudian mengidentifikasi jenis mikro-organisme yang mungkin hidup pada suhu sangat dingin tsb, sehingga lebih dapat dipastikan apakah awal kehidupan jasad renik di Bumi berasal dari Yupiter atau bukan.

Kemudian Perancis membawakan rencana mereka untuk mengeksplorasi lebih jauh beberapa planetoid yang tersebar diantara orbit Mars dan Yupiter, mengambil beberapa sampel, untuk memastikan bahwa mereka memiliki kandungan material sama, dan disana dulu memang ada satu planet besar tapi kemudian hancur berkeping menjadi ribuan planetoid.
Selanjutnya Rusia memaparkan program penelitian lanjut tentang beberapa komet periodik dalam tata surya kita. Lalu China mengemukakan rencana mereka untuk meneliti kandungan awan planet Venus. Setelah itu Jepang pun tak kalah hebatnya, mereka mempresentasikan bahwa mereka akan mengadakan beberapa uji-coba sepeda-motor dan mobil yang bisa digunakan untuk melakukan perjalanan di Bulan.

Pada waktunya tibalah giliran Indonesia. Tapi timbul masalah, karena sebelumnya telah terjadi kesalahan teknis dalam komposisi tim dikirim, sebab ternyata tim yang dikirim bukan dari LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional), lembaga resmi pemerintah RI, melainkan tim gabungan yang terdiri dari beberapa staf administrativ dari lembaga lain, dan tak satu pun dalam tim itu terdapat ilmuwan atau teknikan yang memahami tentang masalah antariksa.
Namun untuk menutupi masalah ini, mereka akhirnya berembuk dan sepakat bahwa Indonesia tetap harus tampil, walau hanya sekedar menyampaikan garisbesar rencana, karena tak mungkin memaparkan program secara detil, dan si pembicara harus sebisa mungkin menghindari pemaparan teknis. Telah disepakati bahwa judul proyek antariksa Indonesia adalah "Eksplorasi Matahari", karena tentang benda langit inilah yang mereka anggap paling banyak mereka ketahui, karena terlihat jelas dan tampak tiap hari di Nusantara.

Dengan penuh percaya diri seorang anggota tim yang dianggap paling mampu tampil mewakili rekan-rekannya maju ke podium diiringi tepuk-tangan meriah dari hadirin. Setelah menyampaikan beberapa kalimat pembukaan sebagai basa-basi, wakil delegasi Indonesia itu pun segera mulai menyampaikan recana antariksa Indonesia:
"Sebagai sebuah negara yang tepat terletak di garis khatulistiwa, Indonesia mempunyai kepentingan besar terhadap Matahari, karena ia adalah sumber PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) kami, dan pada mana sebagian besar industri nasional dan kehidupan rakyat kami bergantung. Dan untuk itu, mulai tahun depan dan beberapa tahun selanjutnya, kami akan melakukan penelitian lebih jauh tentang Matahari dari berbagai aspek dan segala dampaknya bagi kehidupan di Bumi."

Tempik sorak gemuruh memecah suasana yang tadinya hening di ruangan besar auditorium yang dipenuhi anggota tim delegasi dari seluruh dunia itu, sebagai dukungan positiv terhadap proyek Indonesia tsb. Si pemidato pun tersenyum bangga sambil mengangguk-anggukan kepalanya kekiri dan kekanan sebagai tanda penghormatan dan terimakasih atas dukungan forum.
Beberapa saat kemudian seorang anggota delegasi dari salah satu negara peserta berdiri dan mengajukan pertanyaan: "Bagaimana proyek ini akan dilaksanakan? Maksudnya kami secara teknis atau prakteknya agar bisa terlaksana?!"

Menghadapi pertanyaan seperti ini, si pemidato agak sedikit gugup, tapi kemudian untuk meyakinkan para delegator ia terpaksa harus menjawab: "Oh, untuk itu kami akan mengirimkan pesawat antariksa ke Matahari!!!"

Tepuk-tangan meriah pun pecah menyambut jawaban ini. Bahkan sebagian besar delegator berdecak kagum sambil berteriak keras: "Incredible!!!! Luarbiasa, hebat sekali ya Indonesia, tak disangka, ternyata mempunyai progam antariksa begitu dahsyat!!!" Suasana makin hangat, karena seluruh hadirin menyambut rencana Indonesia ini dengan antusias.
Sambutan dan suasana ini makin membuat si Indonesia bangga dan makin manggut-manggut dan separuh membungkukkan badan seperti layaknya orang Jepang kalau lagi memberi hormat [kebetulan si pembicara adalah orang Jawa]. Namun rupanya puncak sambutan ini tak digunakan secara jeli oleh si pembicara untuk mengakhiri presentasi dan sebagai kesempatan mundur dari podium secara terhormat. Ia sepertinya menikmati suasana dimana ia merasa dihargai sebagai seorang pejabat pemerintah. Tapi ia lupa bahwa ia bukan seorang ilmuwan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa rasa bangga dan sombong itu tipis sekali jaraknya, dan ini membuat si pembicara masih tetap bercokol di podium untuk menikmati tempik-sorak berikutnya. Rasa bangganya secara perlahan tapi pasti mulai menyeberang beralih menuju sombong [atau barangkali ia ingin membawa pulang cerita hebat ke tanah-air sebagai oleh-oleh].
Tapi tanpa dinyana, seorang anggota delegator negara lain berdiri dan mengajukan pertanyaan lagi: "Tapi bagaimana teknisnya Indonesia dapat mengirim pesawat ke Matahari? Karena Matahari sangat panas, dengan suhu permukaan sekitar 6.000 derajat Celcius!!! Semua logam akan luluh sebelum mendekat ke Matahari!!! Atau berarti Indonesia memiliki teknologi atau strategi sangat canggih untuk mengatasi problem panas ini???!!!"

Suasana tempik-sorak meriah berubah jadi hening kembali, karena para hadirin kini dilanda pertanyaan sama, dan ingin memperoleh jawaban untuk mengatasi kendala ini. Si pembicara tersentak kaget, dan kali ini ia benar-benar gugup, dan menjadi panik, tapi sebagai konsekuensi ia harus menjawab pertanyaan ini dan memuaskan forum. Karena si pembicara sudah tak dapat lagi mengendalikan dirinya dengan benar, dan untuk menutupi kebohongan proyek fiktif ini, ia pun menjawab kacau: "Oh . . . oh . . . oh . . . Itu masalah kecil buat kami tuan-tuan!!! Karena kami akan berangkat ke Matahari di malam hari dalam musim hujan mendatang . . ."
...
...
...
... ... ... whaaa kkkaaaaa khaaaaaaakkkkkkkkk ... ... ... 

__________________
Dituturkan kembali oleh Achmad Firwany, pemerhati kosmofisika dan penulis seri artikel dan presentasi TESQ (The Explanation of Scientific Qur`an), sebagaimana telah dituturkan oleh Djuhana Widjayakusumah, penasehat HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), beberapa waktu lalu, dalam satu banyolan ketika bertemu dalam suatu acara di Balai Sidang Jakarta, untuk merancang presentasi ilmiah populer kosmofisika sebagai konfirmasi atas informasi ilmiah Al-Qur`an tentang kosmos dan semesta. [TESQ - FINE ART - 15-11-2006].















Waktu Jakarta











» NUKLIR: Penemuan Partikel Lebih Cepat daripada Cahaya
» DINAMIK: Memahami Kedudukan Fisika Kuantum
» DINAMIK: Konversi dan Konservasi Energi
» PLANETOS: Dijual, Tanah di Planet Serupa Bumi
» PARTIKEL: Target Sains 2011: Temukan 'Partikel Tuhan'
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» PLANETOS: Jumlah Planet di Tata Surya Akan Berkurang
» ASTROS: R136a1 - Bintang Terbesar SejagatRaya
» PLANETOS: Atmosfir Pluto Terbalik Dibanding Bumi
» PLANETOS: Peneliti Temukan Planet Bertabur Berlian
» MATH: Prefiks Metrik Vs Digital
» MEDIK: Spektrum Frekuensi Gelombang Otak Manusia
» HELIOS: Letusan Bintik Matahari Ancam Bumi
» IPTEK: Amerika Bangun MegaProyek Matahari Buatan
» KOSMOS: Bayi Lubang Hitam Ini Bisa Melahap Bumi
» KOSMOS: Bibit Kehidupan Bumi dari Luar Angkasa?
» KOSMOS: Alam Semesta Berkembang dari Cairan
» KOSMOS: Astronom Amatir Abadikan Hantaman Benda Asing Terhadap Jupiter
» KOSMOS: Stephen Hawking: tak Mau Punah, Manusia Harus Mencari Planet Lain
» WEBINFO: E-mail Fisika
» INTRO: TESQSCAPE
» KOSMOS: Peneliti Yakin Bumi Kiamat Tiap 27 Juta Tahun
» NUKLIR: PII Rekomendasikan Penerapan Energi Nuklir
» KOSMO: Kandungan Air di Bulan Ternyata Lebih Banyak dari Perkiraan
» INFO: Lukman Hakim Dilantik Jadi Kepala LIPI
» KOSMO: Patung Berusia 200.000 Tahun Ditemukan Di Bulan
» MATERIAL: Kristal Cair
» PARTIKEL: Mencari Partikel Antimateri Hingga Antariksa
» METEOR: Ledakan Meteorit Langka dan Acak
» NUKLIR: BATAN: Chernobyl Bukan Alasan Tolak PLTN
» NUKLIR: BATAN: Indonesia Baru Memiliki PLTN 2018-2020
» INFOTEK: Terapkan 42 Mbps, Indonesia Terdepan di Asia
» INFOTEK: Indonesia Konsisten Perhatikan Keselamatan Nuklir
» INFOTEK: Eropa Bangun Teleskop Terbesar Dunia di Chile
» KOSMOS: Anda Bukan Apa-Apa ...
» ASTRO: Foto Pertama "Mikroskop" Matahari
» OPTO: LASER: Light Amplification by Stimulation of Emission of Radiation
» ASTRO: LAPAN: Badai Matahari 2012 Bukan Kiamat
» LENSA: Dibalik Kemerdekaan RI - 17 Agustus 1945
» KOSMOS: Penetapan Kecepatan Cahaya
» ASTRO: Kerumitan Perhitungan Saat: Hari - Bulan - Tahun
» KOSMOS: Kita Senantiasa Berpindah dalam Ruang dan Waktu
» KOSMOS: Kelajuan Ekstrim: Lebih Laju daripada Cahaya
» INTERMEZO: Proyek Antariksa Indonesia ...
» ASTRO: Sistem Kalender Bumi: 20102 Qiamat? Kalkulasi Manusia Tak Pernah Bisa Presisi!
» ASTRO: Penjelasan IpTek Tentang Isue HuruHara 2012
» ASTRO: Sebelas Planet dalam Tata Surya Kita?
» KEMO: Dinding Antara Dua Laut di Giblatar dan Sungai BawahLaut di Meksiko
» INFOTEK: Senjata BelaDiri Kejutan-Listrik Tegangan-Tinggi Berbentuk PonSel
» INFOTEK: Senjata Api Pembunuh Berbentuk PonSel
» INFOTEK: Lensa Tembus-Pandang
» OPTO: Sains dan Teknologi Lensa Tembus Pandang
» BIO: Spektrum Frekuensi Gelombang Otak Manusia
» PSI: Menguak Kemampuan PSI | ESP
» ESAI: Orang Bodoh VS Orang Pintar
» NICE VIDEO: Black Hole: Jangan Tamak ... Jangan Serakah
» NICE VIDEO: Reach: Jadilah DiriMu Sendiri
» NICE VIDEO: Voodoo: Kejahatan Anda Akan Balik Kepada Anda
» PHOTO: Warna. Properti dan Atribut
» MIKROTEK: Kenali Kartu Plastik Pengganti Uang Anda
» LENSA: Nomor Anda Berapa?
» GEO: Biang Gempa-Bumi dan Tsunami
» MATERIAL: Logam Makin Keras dan Lentur
» KOSMOS: Rahasia Kosmik Sang Air: Fenomena Natural dan SupraNatural
» ASTRO: Bintang Neutron, Supernova dan Lubang Hitam
» TEKNO: Bill Gates dan Toshiba akan Bangun Reaktor Nuklir
» ASTRO: Pelacakan Ledakan Bintang Raksasa SuperNova
» KOSMOS: Asteroid Raksasa Penyebab Kepunahan Dinosaurus
» MATERIAL: MetaMaterial Memungkinkan Anda Menghilang dari Pandangan
» GEO: Hipotesis Gaia: Bumi Yang Hidup Dan Bernafas
» KOSMOS: Jarak Antara Bumi dan Bulan Makin Hari Makin Jauh dan Hari Makin Panjang
» FORUM: Administrator: Salam Kenal
» TUTORIAL: Memuat Citra KompuGrafik: Foto | Gambar di Forum ini
» TEST: Menampilkan Klip Video
» TEST: Menampilkan Klip Audio
» TEST: Menampilkan Citra Grafiks: Foto Atau Gambar
» TEST: Membuat Tabulasi
» TEST: Membuat Daftar
» TEST: 1 ... 2 ... 3 ...
» FORUM: Pertanyaan Tak Akan Dijawab oleh Administrator
» FORUM: Tata Tertib
» FORUM: Etika
» FORUM: Ketentuan dan Kebijakan Administrator Forum
» FORUM: Selamat Datang
» FORUM: Undangan Untuk Para Pemerhati Fisika
» KOSMOS: Semesta Kita Ternyata Hologram Raksasa
» WTA: Image To Seg-Y
» EPILOG: The Physics Philosophy